Hari ini, sehari setelah anniversary pertama pernikahan kami, aku mencoba merangkum beberapa pelajaran hidup yang sudah aku dapatkan selama setahun terakhir. Setahun setelah terlahir kembali sebagai anak, istri, calon ibu dan menantu dalam penggabungan dua keluarga besar yang berbeda adatnya.
Terlepas dari segala cobaan yang telah aku alami selama setahun terakhir, tak sedikit pula kebahagiaan yang telah aku alami. Selama ini aku hanya berfokus pada kesedihanku saja, sehingga kebahagiaan dan cinta yang aku terima seolah tidak ada artinya. Ketidakdewasaanku menuntunku pada jurang kegelapan, aku mulai menyalahkan setiap hal disekitarku, bahkan merasa tidak ada lagi tempatku bergantung.
Ya. Benar kata orang bijak, setelah titik tergelap dalam hidup, akan muncul sediikit demi sedikit cahaya yang akan menuntun kepada kebahagiaan.
1. BANGUN! SADARLAH! KESEDIHAN YANG KAMU ALAMI, BUKAN UNTUK MENJATUHKANMU. TIDAK ADA YANG SALAH DENGAN KAMU, SUAMIMU MAUPUN ORANG DISEKITARMU.
Disini aku sempat terjatuh, dalam. sangat dalam. Dalam keterpurukanku, bahkan kebahagiaan orang lain terlihat seperti mengejek. mencela. Doa dari orang orang aku rasa seperti menghinaku. menyalahkanku. Setiap postingan mereka mengenai suami mereka yang selalu ada, perkembangan janin mereka, pertumbuhan bayi mereka. Semua itu membuat aku murka. muak. pedih.
Dari awal aku merasa mereka sombong, tidak memikirkan perasaan orang lain dan sebagainya.
Tapi setelah pikiranku kembali, perasaanku terobati, aku sadar bahwa semua itu bukan salah mereka. Tapi sempitnya hatiku, piciknya pandanganku akan kebahagiaan orang lain, yang tanpa sadar membuatku semakin terpuruk dan perlahan menggerogoti hatiku.
Aku sempat menyalahkan diri atas setiap kejadian yang menimpaku. Aku sempat merasa pernikahan ini salah, jalan yang aku tempuh ini salah, semua dalam hidupku hanyalah kesalahan,
Aku tidak tahu tepatnya kapan, pikiranku seolah mulai terbuka. Setiap kali amarah mulai berkobar di dadaku, seolah sesuatu yang baru dalam diriku mengajakku meninggalkan kobaran itu. Meninggalkan kesedihan yang aku alami.
2. HIDUPLAH DENGAN BAHAGIA, TIDAK PERLU MENJADI SEMPURNA SEPERTI YANG DIINGINKAN ORANG LAIN
Yah, selama ini aku hidup dengan bayangan agar aku bisa membahagiakan orang lain, perlahan aku mengubah diriku sendiri, menjadi baik sesuai standar orang orang yg ingin aku bahagiakan. Namun kebahagiaan mereka sebenarnya semu, karena hati kecilku sendiri tidak bahagia. Penghargaan apa yang aku dapatkan, apapun yang mereka bicarakan tentangku, baik atau buruk, tidak usah diambil hati. Jika kamu bahagia, biar saja mereka mengatakan kamu pemalas, kamu egois, kamu tidak bertanggungjawab. Hidupmu adalah tanggungjawabmu. Seberapa lama mereka akan hidup untuk melihatmu mengubah dirimu agar mereka bahagia?
Panjangnya hidupmu sendiri kamu tak tahu, nikmati kehidupan sebahagiamu, lepaskan ikatan balas budimu pada yang tak perlu. Sesempurna apapun kamu berusaha, akan tetap ada manusia di luaran sana yang melihat celah keburukanmu.
Intinya cuma dua, tapi ada sangat banyak cabang cabang dari kehidupan itu yang aku raih selama setahun ini.
Dear desi di masa depan, jika nanti kamu baca ini lagi, please, berbahagialah untuk dirimu sendiri.
Meja Kantor,
07 Juli 2017
07 Juli 2017






0 comments:
Post a Comment
Please leave your comment