Hai, selamat malam kebahagiaan yang dinanti...
Jika semua telah diciptakan beralur dan berjalan sesuai orbitnya,
Bagaimana sebuah kegembiraan dan kesedihan melebur menjadi satu dalam otakku?
Setiap kepingan memori tidak bersatu menjadi harmoni yang indah lagi dalam ruang di rongga tengkorak ku.
Katanya hati akan membantu membimbingmu saat jalanmu salah, tapi bagaimana aku memilih jalan yang benar jika otak dan hati tidak sejalan?
Jika beban di pundak dan ingin di kepala menarikmu ke arah jalan yang berbeda, siapakah yang akan kau pilih?
Inginmu? Atau tanggung jawabmu?
Jika hati mampu menuntun, mengapa tak kunjung terang menghampiri jiwa yang sedang sekarat ini?
Perjalanan ku tak panjang, belum sepanjang perjalananmu, tapi lebih panjang dari perjalanannya.
Aku ingin paksakan inginku, tapi inginku akan patahkan hatimu
Aku ingin penuhi inginmu, tapi mereka akan menghilang dan kian menjauh, dan aku diantaranya tak mampu berbuat apapun.
Kau bisa bertanya, dan bebankan padaku, sama seperti yang mereka lakukan.
Maka setiap beban berpindah padaku, belum lagi hitung beban dari dia yang dulu yang sangat aku hormati.
Tidak apa, aku masih kuat. Sandaranku hanya imanku yang masih tercabik-cabik.
Bersandarlah padaku, aku menerima dengan bahagia. Tidak usah tanya inginku, karena hatimu akan patah, jangan pula tanya hatiku, ia masih tertatih merangkai kembali bagian dirinya yang terbanting oleh kehilangan.
Pikiranku dan hatiku tak sejalan, tapi mereka terluka. Dimana perhatianmu yang dulu? Tidak. Jangan berikan padaku, aku terbiasa tanpa perhatianmu. Berikanlah pada mereka, dimasa sulit mereka.
Aku tahu kau sulit, aku tahu kau pun ingin kan perhatian. Tidak cukupkah kasih dan kesetiaan yang dulu kau dapatkan?
Aku bimbang memilih jalanku,
Pikiranku terbelah antara kau dan mereka
Hatiku tertatih merajut kepingannya
Siapa yang bisa membantu ku menjawabnya?
Aku hanya duduk dan termenung, tidak apa. Aku kuat. Aku tegar. Seperti yang selalu kalian tanamkan.
Jalanku berat, asalkan aku mampu melihat keduanya tersenyum aku pun tak apa.
Tapi aku bimbang, jika satu dari kalian tertawa dan satunya lagi bersedih meratapi diri.
Aku tanya siapa?
Aku pilih yang mana?
Haruskah lemparkan diri ke jurang kebahagiaanku sendiri tanpa peduli kalian?
Tapi aku tak bisa karena janjiku terikat padanya yang tlah sirna.
Tidak. Aku tidak akan menyerah.
Nafasku masih ada walau tersengal memasuki pilihan ini.
Beban ini boleh menenggelamkan aku, tapi tidak akan tenggelamkan janjiku.
Sungguh. Aku sedang berusaha. Menggapai tepian agar tak tenggelam demi mewujudkan janjiku.
Aku bergetar, oleh kepahitan yang telah mengalir melalui aliran darahku.
Hai kebahagiaan, tunggulah.
Aku akan menjangkaumu, setelah janjiku terwujud.
Rumah Batu Sri
Malam ketika dia mengakuinya
Malam renungan pengetahuan.
Dan aku diberi pengetahuan yang "indah"
28112015






0 comments:
Post a Comment
Please leave your comment