Pernahkah kau mencintai seseorang? Mencintainya dan merindunya selalu, bahkan rela menantinya hari demi hari dengan harapan ia akan kembali kepadamu dan menjalin kasih kembali denganmu? Menantinya penuh kasih lalu saat ia kembali kau ingin memeluknya erat dan memohon agar ia tak pergi lagi dari sisimu?
Pernahkah kau mencintai seseorang, yang akan selalu kau maafkan bahkan saat ia berbuat curang dibelakangmu? Membuka lebar lebar pintu maafmu untuknya walaupun kau tahu hal itu menyakiti ego dan perasaanmu? Pernahkah kau dengan susah payah menata kembali puing puing kepercayaanmu kepada dia yang kau cintai setelah dia mematahkan setiap bagian hati dan perasaanmu dengan cambuk pengkhianatan?
Pernahkah kau, yang dengan bangganya mengatakan pada dunia betapa kau mencintainya dengan sepenuh hatimu walau kau tahu betapa sakitnya tercabik oleh sebuah kekhilafan yang ia perbuat?
Iya, itulah aku saat ini. Berdiri dengan luka berbalut kebanggaan karena berhasil mencintai seseorang dengan cara indahku sendiri.
Akupun pernah mengatakan aku membencinya saat ia menyakiti hati dan perasaanku. Sama seperti apa yang orang lain akan lakukan. Namun sesuatu dalam hatiku mendorongku untuk tetap bertahan. Sisi jahatku membisikkan sesuatu, “Pembalasan setimpal akan tiba pada waktunya”. Aku bertahan dengan rasa benci yang berselimut cinta lampau. Hingga saat yang sisi jahatku harapkan datang. Sebuah pembalasan yang sempurna. Pengkhianatan dibalas pengkhianatan. Satu pijakan lagi maka rasa sakitku akan terbalaskan. Namun sebuah pucuk dari pohon kenangan menghentikan langkahku. Aku terhenyak. Dan akhirnya aku mendengar lagi bisikan dari sisi satunya “Pembalasan hanya akan menambah kebencian. Cinta yang kau tanam akan berbunga indah dan menyejukkanmu namun jika benci yang kau tanam akan tumbuh semak berduri yang justru menyakitimu.
Pernahkah kau mencintai seseorang, yang akan selalu kau maafkan bahkan saat ia berbuat curang dibelakangmu? Membuka lebar lebar pintu maafmu untuknya walaupun kau tahu hal itu menyakiti ego dan perasaanmu? Pernahkah kau dengan susah payah menata kembali puing puing kepercayaanmu kepada dia yang kau cintai setelah dia mematahkan setiap bagian hati dan perasaanmu dengan cambuk pengkhianatan?
Pernahkah kau, yang dengan bangganya mengatakan pada dunia betapa kau mencintainya dengan sepenuh hatimu walau kau tahu betapa sakitnya tercabik oleh sebuah kekhilafan yang ia perbuat?
Iya, itulah aku saat ini. Berdiri dengan luka berbalut kebanggaan karena berhasil mencintai seseorang dengan cara indahku sendiri.
Akupun pernah mengatakan aku membencinya saat ia menyakiti hati dan perasaanku. Sama seperti apa yang orang lain akan lakukan. Namun sesuatu dalam hatiku mendorongku untuk tetap bertahan. Sisi jahatku membisikkan sesuatu, “Pembalasan setimpal akan tiba pada waktunya”. Aku bertahan dengan rasa benci yang berselimut cinta lampau. Hingga saat yang sisi jahatku harapkan datang. Sebuah pembalasan yang sempurna. Pengkhianatan dibalas pengkhianatan. Satu pijakan lagi maka rasa sakitku akan terbalaskan. Namun sebuah pucuk dari pohon kenangan menghentikan langkahku. Aku terhenyak. Dan akhirnya aku mendengar lagi bisikan dari sisi satunya “Pembalasan hanya akan menambah kebencian. Cinta yang kau tanam akan berbunga indah dan menyejukkanmu namun jika benci yang kau tanam akan tumbuh semak berduri yang justru menyakitimu.
Akupun mundur dan berbalik. Aku menyadari betapa aku mencintainya hingga aku mampu melangkah hingga sejauh ini. Sebuah ketukan di pintu maafku menyadarkanku akan rasa cintaku padanya. Aku mempelajari sebuah hal lagi dalam cinta, Jika seseorang yang kamu cintai menyakitimu dan kau inginkan pembalasan yang setimpal untuknya, biarkan waktu membalaskan untukmu, karna jika kau melakukan hal yang sama dengan yang dia lakukan padamu, maka kau tak ada bedanya dengan orang yang menyakitimu.






0 comments:
Post a Comment
Please leave your comment