Saturday, February 18, 2012
Home »
ceritaajja
» Pertengkaran orang tua vs mental anak
Pertengkaran orang tua vs mental anak
Pernikahan adalah sebuah ikatan sakral yang menyatukan dua insan manusia. Setiap orang yang menikah maupun akan menikah, pasti mengharapkan kehidupan pernikahan yang bahagia dan berjalan selamanya.
Tapi, yang namanya kehidupan pasti selalu ada kerikil yang menghadang, pasang surut kehidupan, suka dan duka dalam sebuah pernikahan. Pertengkaran pun tak jarang terjadi di dalam kehidupan rumah tangga.Ada pasangan yang mampu menghadapi badai yang terdapat dalam pernikahannya namun ada pula yang tidak mampu dan memutuskan untuk berpisah.
Postingan kali ini saya buat berdasarkan pengalaman beberapa kenalan serta kerabat dan juga opini saya sendiri.
Orang tua adalah tauladan untuk putra dan putrinya. Ketika orang tua bertengkar dihadapan anak, secara tidak langsung akan mempengaruhi mental anak anaknya. dampak tersebut antara lain :
1. Anak mengalami trauma
Pertengkaran hebat yang terjadi dihadapan seorang anak yang bahkan belum mengerti dunia orang dewasa, apalagi jika berujung kepada kekerasan yang dilakukan salah satu pihak ortu ke pihak lainnya dapat memicu trauma kepada sang anak sehingga disaat ia tumbuh dewasa traumanya akan menyebabkan ia menjadi pribadi yang sulit untuk mempercayai suatu komitmen dalam cinta seperti pernikahan, namun dalam beberapa kejadian trauma masa lalunya justru mengakibatkan seorang anak tumbuh menjadi seperti apa yang dilihat dan dialaminya selama masa kecilnya. Jika saat anak anak dulu ia melihat sang ayah memukuli ibunya, maka sedikit demi sedikit tertanam dalam benaknya bahwa apa yang dilakukan sang ayah adalah hal yang wajar sehingga ia akan melakukan apa yang dilihatnya itu kepada orang di sekitarnya.
2. Tidak respek
Jika orang tua bertengkar dihadapan anak dengan saling merendahkan maka anak akan menjadi kurang hormat pada orang tuanya. Misalnya saja seorang istri yang memiliki penghasilan yang lebih tinggi dari sang suami merendahkan suaminya dihadapan sang anak, maka sang anak bisa saja menjadi kurang respek kepada ayahnya karena ia merasa yang membiayai nya adalah sang ibu. Selain itu, bagaimana mungkin seorang anak akan mematuhi orangtuanya jika orangtuanya saja tidak mencontohkan hal yang baik dengan saling menghormati sebagai suami-istri
3. Kurang bisa menyayangi
Seorang anak umumnya akan menjadikan orangtuanya sebagai tipe suami atau istri mereka di masa depan. Misalnya seorang anak laki laki akan mencari istri yang pandai memasak seperti ibunya *tapi tidak semua lho* . Jika seandainya dalam pertengkaran orangtuanya ia mendengar kata kata "Jika nanti aku terlahir kembali aku tidak akan pernah mau menikah dengan wanita seperti kamu" maka sang anak akan merasa sang ibu bukan seorang yang patut ia jadikan panutan seperti apa yang ia pikirkan sebelumnya. Maka pupuslah harapan sang anak untuk mendapatkan istri di masa depannya yang seperti sang ibu.
Okaaaay..
itu adalah salah satu pendapat yang ingin saya share di blog ini..
Jika ada yang ingin ditambahkan atau ada yang salah, mohon masukannya yaaah..
:)






0 comments:
Post a Comment
Please leave your comment