Hai, I'm back
Setelah lama sekali aku gak nulis di blog ya
Banyak yg sudah terlewati
Lamaran, menikah, honeymoon, garis dua di testpack, pendarahan, keguguran sampe harap harap cemas setiap kali telat.
Yah. Setelah menikah, segalanya berubah
Keluargaku bertambah, kebahagiaan bertambah, kecemasan dan penantian juga bertambah.
Kali ini aku pengen cerita, karena gatau harus cerita ke siapa.
Sudah genap 6 bulan setelah aku keguguran. Usianya baru 7 minggu, tapi rasa kehilangannya sungguh membekas sampai saat ini
Bagaimana tidak, untuk mengusahakan punya bayi lagi butuh suami. Sementara aku dan suamiku, terpisah jarak beberapa pulau, belum lagi harus mengatur cuti untuk bertemu dan mengatur agar bisa bertemu tepat di saat yg "tepat"
Kadang aku merasa seolah seperti hewan ternak, yg diharapkan segera memberi keturunan untuk melestarikan jenisnya.
Setiap kali berjumpa dengan kerabat, pasti yg ditanya "sudah hamil?" Atau "kok belum hamil sih?"
Percayalah. Kami berusaha. Tapi apa daya jarak kami berjauhan.
Kalau seandainya semua itu bisa di transfer seperti transfer file atau dikirim via email dan -voila- jadilah janin diperut bunda maka semua itu sudah kami lakukan.
Dan ketika hari berjalan seperti biasanya, aku baru menyadari ada sesuatu di «maaf» payudara sebelah kiriku.
Sebuah benjolan, berbentuk bulat telur dan bergerak gerak saat disentuh.
Seketika semangatku runtuh.
Mengingat kembali ke 11 tahun yg lalu, ketika alm ibu menunjukkan padaku, di payudara sebelah kirinya terdapat benjolan, yg sangat mirip dengan apa yg aku rasakan di payudaraku saat ini.
Aku sangat cemas. Menelpon suamiku dan menceritakan semuanya.
Semangatku benar benar runtuh.
Saat dia jauh, dan tidak ada yg bisa aku bagi cerita.
Hari ini, aku memberanikan diri menelepon sebuah rumah sakit swasta yg katanya mempunyai alat untuk usg payudara.
Setelah menelpon, hatiku masih cemas.
Dengan siapa aku akan berangkat memeriksakan diriku?
Jujur saja, seketika aku merasa sendirian. Tidak ada yg bisa aku andalkan.
Pulang kerumah kemudian menangis dan minta diantar bapak? Ah aku tidak tega.
Meminta ditemani mertua ke rs? Rasanya kasihan mengingat lokasi rs yg cukup jauh dari rumah.
Suaminya kemana? Oh. Dia dinas, di tempat yg jauh. Minta dia cuti? Sulit, karena ditempatnya kurang pegawai.
Dalam hati aku menyemangati diriku sendiri.
Agar aku tetap kuat. Tegas. Seperti yang selalu diajarkan ibu.
Hari ini mencoba untuk selalu posting perkembangannya yah. Semoga lancar. Catatan ini agar kelak bisa dibaca kembali, mengingat setiap masa sulit dan kenangan indah yang telah dilalui.
Setelah lama sekali aku gak nulis di blog ya
Banyak yg sudah terlewati
Lamaran, menikah, honeymoon, garis dua di testpack, pendarahan, keguguran sampe harap harap cemas setiap kali telat.
Yah. Setelah menikah, segalanya berubah
Keluargaku bertambah, kebahagiaan bertambah, kecemasan dan penantian juga bertambah.
Kali ini aku pengen cerita, karena gatau harus cerita ke siapa.
Sudah genap 6 bulan setelah aku keguguran. Usianya baru 7 minggu, tapi rasa kehilangannya sungguh membekas sampai saat ini
Bagaimana tidak, untuk mengusahakan punya bayi lagi butuh suami. Sementara aku dan suamiku, terpisah jarak beberapa pulau, belum lagi harus mengatur cuti untuk bertemu dan mengatur agar bisa bertemu tepat di saat yg "tepat"
Kadang aku merasa seolah seperti hewan ternak, yg diharapkan segera memberi keturunan untuk melestarikan jenisnya.
Setiap kali berjumpa dengan kerabat, pasti yg ditanya "sudah hamil?" Atau "kok belum hamil sih?"
Percayalah. Kami berusaha. Tapi apa daya jarak kami berjauhan.
Kalau seandainya semua itu bisa di transfer seperti transfer file atau dikirim via email dan -voila- jadilah janin diperut bunda maka semua itu sudah kami lakukan.
Dan ketika hari berjalan seperti biasanya, aku baru menyadari ada sesuatu di «maaf» payudara sebelah kiriku.
Sebuah benjolan, berbentuk bulat telur dan bergerak gerak saat disentuh.
Seketika semangatku runtuh.
Mengingat kembali ke 11 tahun yg lalu, ketika alm ibu menunjukkan padaku, di payudara sebelah kirinya terdapat benjolan, yg sangat mirip dengan apa yg aku rasakan di payudaraku saat ini.
Aku sangat cemas. Menelpon suamiku dan menceritakan semuanya.
Semangatku benar benar runtuh.
Saat dia jauh, dan tidak ada yg bisa aku bagi cerita.
Hari ini, aku memberanikan diri menelepon sebuah rumah sakit swasta yg katanya mempunyai alat untuk usg payudara.
Setelah menelpon, hatiku masih cemas.
Dengan siapa aku akan berangkat memeriksakan diriku?
Jujur saja, seketika aku merasa sendirian. Tidak ada yg bisa aku andalkan.
Pulang kerumah kemudian menangis dan minta diantar bapak? Ah aku tidak tega.
Meminta ditemani mertua ke rs? Rasanya kasihan mengingat lokasi rs yg cukup jauh dari rumah.
Suaminya kemana? Oh. Dia dinas, di tempat yg jauh. Minta dia cuti? Sulit, karena ditempatnya kurang pegawai.
Dalam hati aku menyemangati diriku sendiri.
Agar aku tetap kuat. Tegas. Seperti yang selalu diajarkan ibu.
Hari ini mencoba untuk selalu posting perkembangannya yah. Semoga lancar. Catatan ini agar kelak bisa dibaca kembali, mengingat setiap masa sulit dan kenangan indah yang telah dilalui.
Meja kantor,
20 Maret 2017
16.45
20 Maret 2017
16.45






0 comments:
Post a Comment
Please leave your comment