Kenapa harus dia?
Bukan orang lain yang juga berdiri di tembok yang sama dengan ku?
Aku terpaku pada sebuah kisah dimasa lalu...
Kami berdiri di balik tembok yang tinggi..
aku disini, di tempatku tumbuh dan berkembang...
Dia disana, di tempatnya tumbuh dan berkembang...
Tapi kami sama sama bisa melihat purnama..
hanya itu yang aku tahu..
Setiap kali purnama tiba, tanpa kami sadari..
Kami memandang bulan yang sama, mengambil gambarnya dan membicarakannya dalam hati..
Setiap kali purnama...
Purnama bulan lalu,bulan ini dan bulan yang akan datang,
Pasti purnama itu selalu hadir...
Dan kamipun terkait tanpa kami sadari..
semuanya karena purnama..
Lalu tiba saat gerbang tembok itu dibuka, di purnama di Bulan keempat..
saat itulah aku berjumpa dengan dia..
melihat purnama, aku lihat sinar juga dimatanya..
seperti aku yang juga menyukai purnama, sangat menyukainya..
teman temanku mengatakan aku aneh,memandangi purnama dan selalu menunggu..
tapi disini..
ternyata dibalik tembok tinggi ini..
aku bertemu dengannya yang juga sama denganku...
dan saat itu juga aku jatuh cinta padanya...
Setiap tahunnya, aku selalu menunggu datangnya hari ketika gerbang besar itu dibuka..
aku melihat dia dan sinarnya dibawah purnama...
dan seketika rinduku terhapuskan..
Dan selama satu tahun itu, hanya purnama yang menjaga rinduku kepadanya...
tahun tahun berikutnya tetap sama..
aku menunggu hingga dia datang dan memandanginya dari balik bukit kecil..
Tapi di sebuah tahun,aku tak melihat dia...
saat aku mulai panik, aku melihat dia berdiri di tepi sungai yang airnya sangat jernih..
sangat jernih hingga mampu memantulkan cahaya bulan purnama yang selalu kami tunggu...
aku mendekat, dan menganggap inilah saatnya..
Kerinduanku dan rasa kagumku yang tersimpan bertahun tahun..
langkah demi langkahku terasa ringan, seolah tertarik oleh pesona pendar bulan diwajahnya..
Namun tembok tinggi itu kembali muncul dalam bayanganku...
dan yang kusaksikan, Dia disana, tapi tak sendiri..
Dia disana dan tersenyum, tapi bukan padaku...
Pendar bulan diwajahnya tetap menarik, tapi kini disentuh oleh orang lain..
Aku terpaku ditepian bukit, memandang purnama yang tersenyum teduh..
Tembok tinggi dihadapanku tersenyum mengejek..
namun purnama tetap tersenyum mendukungku..
Aku tetap terpaku hingga desir angin membangunkanku..
Sejenak aku berharap peristiwa itu adalah mimpi..
tapi pendar bulan purnama dimalam itu mengingatkanku akan pedihku..
Ini bukan mimpi, bukan..
antara dia dan aku terdapat benteng tinggi yang bahkan tak mampu kami tembus..
Hanya Purnama yang menyaksikan..
Hanya Purnama yang tahu...
Dan hanya aku yang mencintainya dan tak berbalas...






0 comments:
Post a Comment
Please leave your comment