Wednesday, March 20, 2013

Sekilas Cerita tentang Penempatan

Halo,
Hari ini saya ingin menceritakan beberapa hal mengenai Penempatan saya,
walaupun sudah hampir 3 bulan saya berada dan bekerja di kantor penempatan tapi ini adalah posting pertama saya mengenai penempatan ini..
Pengumuman penempatan pertama kali saya dapatkan dari informasi salah seorang teman yang kebetulan mempunyai informasinya...
Lho kok penempatan?
Jadi ceritanya begini, saya kebetulan diterima di sebuah kampus yang berikatan dinas dengan sebuah instansi pemerintah, singkat cerita, kuliah disana akan langsung diterima sebagai pegawai di instansi pemerintah tersebut (kalau berhasil lulus sampai diwisuda). Nah, untuk itu, saya dan teman-teman saya di kampus dipersiapkan untuk ditempatkan dimana saja, di seluruh Indonesia, termasuk di daerah yang bahkan namanya belum pernah saya dengar.
Oke, lanjut ke cerita
Saya sendiri mendapat penempatan yang cukup membahagiakan, kembali ke kampung halaman saya, di Bali, tepatnya di Kota Denpasar. Kedua orangtua saya tinggal di Denpasar, walaupun asal bapak saya adalah Singaraja.
Walaupun demikian, tidak semua teman-teman saya mendapat penempatan sesuai dengan harapan ataupun tempat asal mereka, jika saya boleh jujur, saya merasa senang tapi juga sekaligus tidak enak, mendengar beberapa teman berkata *dengan nada menyindir* "kamu sih enak penempatan pulang kerumah jadi gajinya utuh dan bisa nabung".
Sebenarnya apa yang mereka katakan terkadang tidak melihat seperti apa keadaan sekitar, termasuk yang dikatai, karena apa yang kita lihat kan belum tentu apa yang orang tersebut rasakan.
Saya menyadari kalau saya sendiri juga terkadang *bahkan sering* seperti itu, menilai seseorang dari apa yang saya lihat, tapi saya sudah belajar sejak awal masuk kuliah, bahwa melihat keadaan seseorang bukan hanya dari apa yang kita lihat tapi apa yang mereka lihat juga, menilai seseorang baik atau buruk bukan hanya dari sudut pandang kita saja, tapi juga dari sudut pandang si pelaku. Jadi akan lebih baik untuk tidak berpendapat jika tidak tahu sesuatu dari sudut pandang yang lain.
Saya mendapat penempatan di rumah bukannya tanpa bantuan orang lain, tentu saja ada orang-orang yang selalu mendoakan saya agar bisa penempatan kembali kerumah, salah satunya almarhum kakek saya. Beliau selalu menyemangati saya dan selalu menantikan kapan saya akan ditempatkan di Bali agar keluarga kami bisa berkumpul kembali, bahkan sampai pada akhir hayat beliau.Terakhir kali saya pulang ke Singaraja *kampung bapak saya* adalah sekitar 3 minggu sebelum kepergian kakek (sekitar bulan September) kebetulan saat itu saya sedang liburan semester 5, kakek saya sudah sakit tapi masih mampu berbincang-bincang dengan saya. Beliau menanyakan berapa lama lagikah saya akan tinggal di Jawa *maksudnya Tangerang karena bagi orang-orang tua di kampung saya, keluar Bali namanya Jawa hehehe*. Saya hanya bisa menjanjikan, kalau tidak ada halangan Desember saya akan kembali ke Bali sebelum ditempatkan. dan itu terakhir kalinya saya berjumpa dengan kakek saya, karena 2 hari setelah keberangkatan saya ke Tangerang untuk melanjutkan kuliah, kondisi kakek memburuk sehingga harus dirawat di rumah sakit selama sekitar 10 hari di ruang ICU. Sehari sebelum kakek meninggal, beliau sudah tidak sanggup berbicara, sementara saya yang saat itu sangat ingin pulang tidak bisa pulang karena tidak ada biaya sehingga saya berinisiatif untuk berbicara dengan kakek lewat telepon, berkata saya mengikhlaskan jika memang sudah waktunya bagi kakek untuk meninggalkan kami. Ternyata walaupun tidak sanggup berbicara, kakek mengeluarkan air mata . orangtua tidak sanggup membelikan tiket karena kondisi keuangan apalagi dengan kakek yang dirawat di rumah sakit. Bahkan saat kakek meninggal dan dikuburkan saya tidak bisa pulang masih dengan alasan yang sama.
Masih teringat semangat kakek ketika saya berangkat untuk kuliah yang berikatan dinas, sebagai cucu pertama dari garis keturunan laki-laki dalam keluarga saya, karena tahu kalau lulus kuliah nanti akan langsung mendapat pekerjaan. begitu juga saat penempatan saya ditunda, kakek masih terus menyemangati.
Setelah saya dipastikan mendapat penempatan di Bali, sayang sekali kakek bahkan tidak sempat saya belikan gule kambing kesukaannya dengan gaji saya sendiri. :')
Tapi bagaimanapun, saya yakin, penempatan di Denpasar ini tidak lepas dari doa almarhum kakek, doa orangtua saya dan keluarga saya yang lainnya.
Tak henti saya memanjatkan rasa syukur atas amugrah Tuhan, sehingga saya bisa kembali berkumpul dengan keluarga saya, merayakan Nyepi, Galungan Kuningan dan yang lainnya bersama kembali. :)

0 comments:

Post a Comment

Please leave your comment